Pendidikan
Beranda » Berita » Tim KKN-T UTM Sosialisasikan Manajemen Pakan Efisien untuk Optimalkan Pertumbuhan Ikan Lele

Tim KKN-T UTM Sosialisasikan Manajemen Pakan Efisien untuk Optimalkan Pertumbuhan Ikan Lele

srwrwrwrw
Pak Khoirul menyampaikan materi manajemen pakan ikan lele bersama Pak Abdus Salam Junaedi, S.Si., M.Si

Jurnalis : Rayyan Malik

Bangkalan, Arosbaya – 4 November 2025 Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Program Studi S1 Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Kelautan dan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura mendampingi masyarakat Desa Tengket, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan dalam kegiatan sosialisasi terkait manajemen pakan pada budidaya ikan lele yang digelar pada hari Selasa 04 November 2025, bertempat di Balai Desa Tengket, Kecamatan Arosbaya, Kabupeten Bangkalan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan budidaya ikan lele dengan cara penerapan manajemen pakan yang efektif.

Kegiatan ini diperuntukan kepada para pembudidaya ikan lele yang ada di Desa Tengket Kecamatan Arosbaya. Kegiatan ini memberikan manfaat bagi pembudidaya ikan lele yang masih awam atau yang masih kurang paham akan pentingnya manajemen pakan dalam menyiasati kebutuhan pakan ikan lele yang relatif semakin mahal setiap tahunnya.

Bapak Khoirul selaku pemateri menjelaskan bahwa pemberian pakan secara efisien pada ikan lele dapat memberikan dampak positif pada pertumbuhan ikan lele. Pakan yang berkualitas tinggi juga mendorong pertumbuhan ikan secara optimal. Pakan yang mengandung protein, lemak, dan karbohidrat sangat diperlukan dalam menjamin kesehatan dan pertumbuhan ikan secara cepat. Frekuensi atau pemberian pakan pada ikan lele, biasanya dilakukan sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan malam hari. Penggunan probiotik juga diperlukan dalam pertumbuhan ikan lele,dimana pemberian probiotik (Fisyh Pro dan EM4) dapat membantu efesiensi pakan dan pertumbuhan ikan menjadi lebih optimal. Pengecekan kualitas perairan pada kolam budidaya juga menjadi faktor yang perlu diterapkan, dengan cara shipon atau pengantian air secara teratur agar tidak mengakibatkan banyaknya kandungan amonia dan nitrit dari sisa pakan maupun dari kotoran ikan.

Madkholiq, salah seorang mahasiswa KKNT menanyakan, “Selain pakan buatan (pelet), apakah juga ada pakan tambahan atau alternatif yang digunakan selama kegiatan budidaya ikan lele, Pak Khoirul” tanya dengan nada penasaran. Pak Khoirul memberikan tanggapan bahwa selain pakan pelet juga perlu ditambahkan pakan alternatif seperti cacing sutra yang diberikan pada saat benih ikan umur 3-7 hari setelah tebar. Hal ini dikarenakan pada usia ini bukaan mulut benih sudah cukup besar untuk mengonsumsi cacing sutra. Rifli menyampaikan bahwa pakan pelet yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan ikan lele dengan cara menghitung kebutuhan pakan (g), yaitu mengalikan parameter biomassa ikan dengan feeding rate (%). Ajeng menambahkan bahwa persentase feeding rate ikan berbeda-beda tergantung dengan berapa besaran bobot ikan yang dibudidaya, misalnya bobot ikan kurang dari 5 gram, biasanya feeding rate yang digunakan antara 5-7% dari biomassa total.

Devita dan Talita menekankan bahwa manajemen pemberian pakan juga harus memperhatikan faktor kualitas pakan. “Para pembudidaya ikan lele diharuskan untuk memilih pakan dengan kadar proten yang tepat dan berbahan baku yang berkualitas,” tegas Devita. Talita menambahkan, “Jangan lupa untuk memperhatikan tanggal kadaluarsa, aroma pakan, warna, dan tekstur dari pakan yang dibeli”. Cinta juga mengingatkan agar para pembdudidaya ikan lele juga melakukan kegiatan monitoring pertumbuhan dan penyesuaian pakan dengan cara melakukan kegiatan sampling bobot ikan setiap 1-2 minggu untuk menyesuaikan feeding rate.

Bukber Mahasiswa Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Teguhkan Ukhuwah dan Kolaborasi Lintas Generasi

Prof. Zainuri selaku pembimbing kegiatan KKNT menyampaikan bahwa manajemen pakan ini menjadi kunci keberhasilan kegiatan budidaya ikan lele di Desa Tengket, Arosbaya karena target FCR (feed conversion ratio) yang ideal untuk ikan lele adalah sekitar 1,0-1,2. Pak Alfan mengimbuhkan “Artinya, setiap 1-1,2 kg pakan diharapkan dapat menghasilkan 1-1,2 kg daging ikan. Pak Abdu juga menguatkan bahwa dengan adanya sistem bioflok yang diterapkan di kolbun (kolam bundar) milik Pak Khoirul dapat mengurangi kebutuhan pakan hingga 20-30% karena bakteri yang terdapat dalam probiotik ikan mampu menguraikan sisa pakan yang terdapat di dasar kolam. “Manajemen pakan ini harus didukung dengan subtitusi penggunaan probiotik ikan yang ramah lingkungan seperti probiotik ikan dengan merek Fiysh Pro UTM (produk unggulan dari program studi S1 Manajemen Sumberdaya Perairan) atau produk probiotik ikan lainnya yang ada di pasaran.

daeqeqeq

Dokumentasi kegiatan sosialisas teknik dan manajemen pakan ikan lele di Balai Desa Tengket, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan.

TIM KKN-T UTM Desa Tengket Arosbaya, berharap kepada masyarakat setelah sosialisasi ini agar dapat memanfaatkan ilmu yang telah diberikan dan dapat mengaplikasikannya secara rutin dan sehingga pertumbuhan ikan lele menjadi lebih optimal dan mendapatkan produktivitas hasil panen ikan lele yang maksimal. Masyarakat Desa Tengket Arosbaya juga sangat antusias dalam sosialisasi ini, beberapa perwakilan kelompok pembudidaya ikan lele juga bertanya mengenai manajemen pakan ini kepada pemateri untuk dapat lebih memahami dan mengetahui pentingnya kegiatan manajemen pemberian pakan pada budidaya ikan lele.

 

Ubah Selada Hidroponik Jadi Keripik Unik, Mahasiswa KKN Untag Surabaya Hadirkan Inovasi Baru di Desa Selotapak

× Advertisement
× Advertisement