Daerah
Beranda » Berita » Kampung Mandiri Pangan Ibu Profesional dan THSN Dorong Ketahanan Pangan Dimulai dari Keluarga

Kampung Mandiri Pangan Ibu Profesional dan THSN Dorong Ketahanan Pangan Dimulai dari Keluarga

WhatsApp Image 2026-09-07 at 12.07.03
Fasilitator lima regional Ibu Profesional berfoto bersama usai kegiatan Kampung Mandiri Pangan di Klaten.

KLATEN, 6 September 2026 — Ketahanan pangan ternyata tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Ia bisa tumbuh dari halaman rumah, dari pot kecil di sudut teras, dari sisa dapur yang diolah menjadi pupuk, bahkan dari keberanian sebuah keluarga untuk bertanya:

“Apa yang bisa kami hasilkan sendiri?”

Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi napas kegiatan Kampung Mandiri Pangan (KMP) Ibu Profesional X THSN yang digelar pada 5–6 September 2026 di Yoso Farm, Klaten. Sebanyak 20 fasilitator Kampung Mandiri Pangan dari lima regional Ibu Profesional— IP Solo, IP Jogja, IP Salatiga, IP Pacitan Raya, dan IP Semarang—berkumpul untuk belajar, mempraktikkan, sekaligus menyiapkan langkah membawa semangat kemandirian pangan kembali ke komunitas masing-masing.

Di tengah tantangan pangan yang semakin kompleks, rumah justru dapat menjadi titik awal yang paling dekat dan nyata. FAO mencatat bahwa kebun rumah tangga dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan karena menyediakan akses langsung keluarga terhadap pangan segar dan beragam. Bahkan, sistem micro-garden memungkinkan produksi pangan dilakukan di ruang yang sangat terbatas, termasuk halaman, balkon, teras, maupun wadah sederhana.

Belajar dari keluarga yang memulai dari mimpi

UPN Veteran Jawa Timur Gelar Pelatihan Art Baking bagi Ibu-Ibu Klakahrejo

Di Yoso Farm, para fasilitator tidak hanya belajar tentang tanaman. Mereka belajar tentang cara pandang.

Pemilik Yoso Farm, Bapak Widodo dan Ibu Nurul, memulai perjalanan mereka (Yoso Farm) pada 2017. Menariknya, gagasan membangun kemandirian pangan keluarga bermula dari sebuah “proposal pernikahan”. Dari sana, keduanya perlahan membangun konsep Ketapang Kencana—Ketahanan Pangan Keluarga Terencana, sebuah gagasan bahwa keluarga dapat merancang sendiri sistem pangan yang sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.

Filosofi yang diterapkan pun sederhana: mulai dari akhir.

522 Pelajar DIY dan Jateng Ramaikan Kontes Roket Air di Jogja

Sebelum menanam, siapkan pupuknya. Sebelum memelihara ternak, siapkan sumber pakannya. Sebelum menghasilkan pangan, siapkan terlebih dahulu sumber daya yang menopang keberlangsungannya.

Semangat tersebut terangkum dalam prinsip 3M: Mudah, Murah, Melimpah.

BRI Dorong Pertumbuhan UMKM Probolinggo melalui Penyaluran KUR

“Rumah adalah ruang atau laboratorium tanpa batas,” menjadi salah satu cara pandang yang ditanamkan di Yoso Farm. Kemandirian pangan tidak harus identik dengan investasi besar atau lahan luas. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk melihat kembali apa yang sudah tersedia di sekitar rumah dan mengolahnya menjadi sumber daya.

Semangat itu kemudian dipertegas melalui tagline Yoso Farm, “Lestari Nganggo Ati”—sebuah ajakan untuk hidup selaras dengan alam dan menjalaninya dengan sepenuh hati, bukan semata-mata mengejar nilai materi.

Jangan Mudah Tergiur Imbal Hasil Tinggi, BRI BO PROBOLINGGO Ingatkan Risiko Modus Penipuan Investasi

Bukan sekadar menanam

Selama dua hari, para fasilitator mempelajari praktik yang dapat diterapkan kembali di keluarga dan komunitas. Mulai dari menyiapkan pupuk untuk tanaman keluarga, membangun sumber protein hewani dan nabati, mengenal kandang kastari untuk ayam, hingga pengelolaan minyak jelantah.

Pengelolaan sampah pun ditempatkan sebagai bagian tak terpisahkan dari ketahanan pangan. Dari rumah, sampah perlu diselesaikan melalui prinsip 3AH: Cegah, Pilah, Olah.

BRI Peduli Dukung Perbaikan Infrastruktur Jalan, Berikan Manfaat Nyata bagi Masyarakat Desa Maron Kulon Kec. Maron Kab. Probolinggo

Sebab, kemandirian pangan bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan makanan, tetapi juga bagaimana keluarga mengelola sumber daya yang ada agar tidak berhenti menjadi limbah.

Bagi Bapak Widodo, kehadiran para fasilitator Kampung Mandiri Pangan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri.

Ia berharap apa yang telah dipelajari di Yoso Farm tidak berhenti sebagai pengetahuan selama dua hari, tetapi benar-benar dipraktikkan dan dijalankan secara konsisten.

“Harapannya bisa dipraktikkan dengan baik dan istiqamah.” demikian pesan Bapak Widodo kepada para peserta.

Peserta pelatihan yang menemukan cara pandang baru

Menariknya, peserta tidak seluruhnya datang sebagai orang yang benar-benar baru mengenal dunia pertanian.

Salah seorang peserta Anita dari IP Pacitan Raya, yang juga merupakan seorang petani, justru menemukan sesuatu yang berbeda setelah mengikuti kegiatan ini. Baginya, bertani selama ini bukan hal asing. Namun, KMP menghadirkan nilai dan pendekatan baru tentang bagaimana ketahanan pangan dapat dibangun secara terencana dari keluarga dan sumber daya yang tersedia.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa KMP bukanlah ruang untuk mengajarkan bahwa hanya ada satu cara dalam bertani. Sebaliknya, ia menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, mempertemukan pengetahuan, dan menemukan pendekatan yang bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga dan wilayah.

Berbeda lagi dengan Sisil dari IP Jogja, dimana beliau tinggal di kota dengan keterbatasan lahan. Beliau sudah 3 kali berkunjung ke Yoso Farm, dan setiap kunjungannya memiliki kesan yang berbeda dan energi yang sama yaitu semangat perubahan dan berdaya, bersyukur bergabung menjadi fasilitator KMP karena menjaga ruh atau akar keluarga dan bs berbagi di lingkungan.
Karena pangan tidak bisa diselesaikan sendirian

Dua hari di Yoso Farm pada akhirnya bukanlah tujuan akhir.

Dua puluh fasilitator akan kembali ke lima regionalnya masing-masing untuk menularkan, mempraktikkan, dan menduplikasi nilai-nilai Kampung Mandiri Pangan di wilayah mereka.

Sebab persoalan ketahanan pangan terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu keluarga, satu komunitas, bahkan satu gerakan saja.

Diperlukan banyak orang yang bergerak bersama, dengan langkah yang berbeda tetapi berada dalam orbit yang sama.

Dari satu rumah, tumbuh satu keluarga yang lebih mandiri. Dari satu keluarga, tumbuh satu lingkungan yang lebih sadar. Dari satu komunitas, tumbuh gerakan yang lebih luas.

Dan mungkin, perubahan besar tentang pangan memang tidak selalu dimulai dari kebijakan yang besar.

Bisa jadi, ia dimulai dari satu pot di halaman rumah. Dari satu ember kompos. Dari satu kandang ayam. Dari minyak jelantah yang tidak lagi dibuang sembarangan. Atau dari satu keluarga yang memutuskan untuk mencoba.

Dari rumah, pangan tumbuh.

Dari hati, gerakan bergerak.

Bergema-Kampung Mandiri Pangan

@ibuprofesional.offlicial

× Advertisement
× Advertisement