Kolom
Beranda » Berita » Dari Scroll Jadi Shop: Transformasi Perilaku Konsumen Digital

Dari Scroll Jadi Shop: Transformasi Perilaku Konsumen Digital

adaswwww

Editor : Ali Kadafi

Penulis : Diah Saniy Pramudita, S2 Magister Manajemen, Universitas Negeri Yogyakarta

Kabar Tren, Opini – Fenomena “dari scroll jadi shop” menjadi lebih umum dalam kehidupan masyarakat. Pergeseran ini menandai pergeseran perilaku konsumen di era digital, di mana media sosial tidak lagi sekadar ruang interaksi tetapi juga menjadi tempat utama untuk berbelanja. Dengan demikian, aktivitas scrolling di media sosial pada awalnya hanya untuk hiburan sekarang sering mengarah pada transaksi pembelian.

Meningkatnya jumlah pelanggan yang menggunakan media sosial sebagai cara untuk melakukan transaksi menunjukkan tren ini. Data menunjukkan bahwa dalam satu tahun terakhir, sekitar 52% konsumen Indonesia telah menggunakan media sosial untuk berbelanja. Angka-angka ini menunjukkan bahwa media sosial telah berkembang menjadi area ekonomi baru yang bersifat sosial dan komersial. Fenomena ini bahkan lebih dominan di kalangan generasi muda. Sementara 68% Gen Z menemukan produk saat browsing, 53% telah terbiasa melakukan pembelian langsung melalui media sosial. Namun, tingginya angka ini juga menunjukkan bahwa ada perubahan dalam pola konsumsi yang lebih impulsif. Konsumen cenderung melakukan pembelian tanpa perencanaan karena paparan konten yang berulang, kemudahan akses, dan algoritma yang terus mengubah preferensi pengguna. Meskipun produk tersebut tidak benar-benar dibutuhkan, produk yang muncul secara teratur di linimasa dengan gambar yang menarik dan iklan yang agresif seringkali memicu dorongan emosional untuk membeli.

Laporan Kompas.com menyatakan bahwa pertumbuhan bisnis sosial di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan media sosial berubah menjadi alat penting untuk aktivitas ekonomi digital selain sebagai alat komunikasi. Ini menegaskan bahwa media sosial adalah “mall baru” yang lebih praktis dan dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat. Selain itu, sekitar 38% pembeli menggunakan media sosial untuk melakukan penelitian tentang barang sebelum membeli. Meskipun perilaku ini tampak rasional, situasi ini juga menimbulkan masalah baru: sulit untuk membedakan ulasan objektif dari promosi terselubung. Banyak konten tampak seperti review jujur, tetapi itu adalah bagian dari strategi pemasaran yang dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan pembelian. Fenomena ini juga diperkuat oleh peran influencer dan konten kreator. Karena mereka lebih dekat dengan audiens dan bersifat pribadi, rekomendasi dari kreator seringkali dianggap lebih terpercaya. Namun, jika kolaborasi promosi tidak jelas, konsumen dapat terpengaruh tanpa menyadari bahwa konten tersebut adalah iklan. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan pembelian impulsif. Selain itu, fitur live shopping mempercepat proses pembelian. Konsumen memiliki kesempatan untuk melihat produk secara langsung, berbicara dengan penjual, dan melakukan pembelian sekaligus. Meskipun fitur ini memberikan pengalaman belanja interaktif yang mirip dengan belanja di toko fisik, fitur ini juga memiliki kelemahan. Ketika ada batasan waktu, diskon, atau dorongan dari penjual, pelanggan sering mengambil keputusan terburu-buru tanpa mempertimbangkan kebutuhan mereka secara menyeluruh. Sebaliknya, perubahan dalam perilaku mulai terlihat.

Menurut Medcom.id, beberapa pembeli menjadi lebih cerdas saat berbelanja dengan membandingkan barang, membaca ulasan secara menyeluruh, dan mempertimbangkan kebutuhan mereka sebelum membeli barang. Meskipun demikian, kebiasaan ini masih belum menjadi tren umum, terutama di kalangan generasi muda yang lebih sering terpapar konten promosi. Selain itu, menurut laporan Kompas.id, masyarakat semakin rentan terhadap perilaku konsumtif sebagai akibat dari promosi dan akses digital yang luas. Media sosial tidak hanya menjadi “mall baru”, tetapi juga mengubah cara kita mengonsumsi sesuatu dengan lebih cepat, instan, dan berdasarkan emosi. Oleh karena itu, pelanggan harus lebih cerdas dengan tren ini. Agar masyarakat tidak terjebak dalam pola belanja impulsif, literasi digital, kemampuan memilah informasi, dan kemampuan untuk mengontrol pengeluaran sangat penting. Tanpa kesadaran tentang fenomena “dari scroll jadi shop”, perilaku konsumtif individu dapat berubah, yang berdampak pada keuangan mereka di masa depan.

Koperasi Syariah Dalam Perkembangannya Menghadapi Tantangan Zaman

× Advertisement
× Advertisement