Daerah
Beranda » Berita » 25 Member Ibu Profesional Sumatera Utara Ditempa Jadi Fasilitator Pandu 45

25 Member Ibu Profesional Sumatera Utara Ditempa Jadi Fasilitator Pandu 45

WhatsApp Image 2026-09-15 at 17.03.07 (1)
Peserta Workshop Pandu 45 + Kit Ibu Profesional Sumatera Utara bersama fasilitator dan narasumber usai kegiatan.

MEDAN, 12 September 2026 — Setiap anak memiliki cahaya yang berbeda. Tantangannya bukan sekadar membuat anak tumbuh, tetapi membantu mereka menemukan di mana cahaya itu paling terang. Semangat inilah yang menjadi napas Workshop Pandu 45 + Kit yang diselenggarakan Ibu Profesional Sumatera Utara pada Sabtu, 12 September 2026, di Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Sebanyak 25 member Ibu Profesional Sumatera Utara mengikuti pelatihan yang menghadirkan Ibu Septi Peni Wulandani dan Bapak Dodik Mariyanto, penggagas Pandu 45. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi para ibu untuk memperkuat kemampuan dalam mengenali potensi anak secara lebih utuh sekaligus mempersiapkan diri menjadi fasilitator Pandu 45 yang tersertifikasi.

Pandu 45 sendiri merupakan panduan untuk membantu orang tua memahami kekuatan anak melalui eksplorasi beragam aktivitas. Pendekatan ini mendorong orang tua untuk tidak terburu-buru memberi label atau menyimpulkan bakat anak, melainkan memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, mengalami, mengamati, dan menemukan aktivitas yang sesuai dengan dirinya.

Dari tarian Sumatera Utara hingga filosofi Pandu 45

Kehadiran Ibu Septi Peni Wulandani dan Bapak Dodik Mariyanto disambut dengan tarian sederhana khas Sumatera Utara. Suasana kemudian semakin cair melalui Dance Homi yang diikuti bersama oleh seluruh peserta, Beebo, dan Homi.

Energi positif tersebut menjadi jembatan menuju sesi pembukaan bertajuk “Setiap Anak Edisi Khusus” sebuah pengingat bahwa setiap anak hadir dengan kombinasi keunikan, pengalaman, minat, dan kekuatan yang tidak dapat diseragamkan.

Hari Pelanggan Nasional, PLN Pastikan Keandalan Listrik RSUD Balung sebagai Penopang Layanan Kesehatan

Peserta kemudian diajak memahami filosofi Pandu 45, sebelum memasuki sesi yang lebih praktis melalui observasi, demo fasilitasi, hingga microteaching. Dengan metode tersebut, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berlatih menerjemahkan konsep menjadi pengalaman belajar yang dapat diterapkan bersama anak.

“Pandu 45 mengajak orang tua untuk kaya wawasan dan kaya kegiatan sebelum membantu anak menemukan gagasannya sendiri. Semakin beragam pengalaman yang diberikan, semakin banyak kesempatan anak mengenali apa yang sesuai dengan dirinya,” demikian prinsip yang menjadi dasar pendekatan Pandu 45.

Dalam materi Pandu 45, eksplorasi dilakukan melalui 45 aktivitas potensi kekuatan, yang terdiri atas 30 klaster bakat terkait peran dan 15 klaster terkait bidang/pancaindra. Anak tidak diarahkan untuk segera menemukan satu label bakat, tetapi diberi kesempatan memperkaya pengalaman dan mengamati aktivitas yang terasa paling sesuai dengan dirinya.

Kampung Mandiri Pangan Ibu Profesional dan THSN Dorong Ketahanan Pangan Dimulai dari Keluarga

Belajar dengan mengalami, bukan sekadar memahami

Salah satu kekuatan workshop ini adalah pendekatan belajar berbasis pengalaman. Peserta tidak berhenti pada sesi pemaparan, tetapi diajak melakukan praktik observasi, demo fasilitasi Pandu 45, dan microteaching.

Proses tersebut menjadi penting karena fasilitator bukan hanya dituntut memahami konsep, tetapi juga mampu menciptakan ruang aman bagi anak untuk bereksplorasi, mengamati proses, serta memberikan pendampingan tanpa terburu-buru menentukan hasil.

UPN Veteran Jawa Timur Gelar Pelatihan Art Baking bagi Ibu-Ibu Klakahrejo

Pendekatan ini sejalan dengan semangat Game Based Learning yang menjadi salah satu bagian dari rangkaian program BERGEMA 2026. Dalam berbagai pelaksanaan BERGEMA, permainan digunakan sebagai ruang untuk membangun komunikasi, kerja sama, kepercayaan, dan kedekatan sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi keluarga.

Karena bagi anak, belajar tidak selalu harus dimulai dari meja dan buku. Kadang, belajar dimulai dari rasa ingin tahu, permainan sederhana, gerak tubuh, percobaan, percakapan, dan keberanian mencoba sesuatu yang baru.

522 Pelajar DIY dan Jateng Ramaikan Kontes Roket Air di Jogja

Dari workshop menjadi aksi nyata

Pada penghujung kegiatan, peserta mengikuti sesi umpan balik dan penyusunan rencana aksi. Tahap ini menjadi momentum untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang workshop, tetapi berlanjut menjadi praktik pendampingan anak di rumah maupun di komunitas.

Kolaborasi dukungan bersama THSN Indonesia (The Human Safety Net Indonesia) turut memperkuat semangat tersebut. Dalam ekosistem BERGEMA, Ibu Profesional dan THSN mendorong terciptanya ruang belajar keluarga yang menempatkan bermain, keterlibatan orang tua, dan perkembangan anak sebagai bagian penting dari proses tumbuh bersama. Pelaksanaan BERGEMA di berbagai daerah pada 2026 juga mengintegrasikan aktivitas “Aku & Bapakku”, Game Based Learning/Pandu 45, serta pelatihan fasilitator.

Di Sumatera Utara, semangat itu menemukan bentuknya melalui 25 ibu yang hari itu bukan hanya datang untuk belajar, tetapi juga dipersiapkan untuk menjadi bagian dari rantai kebaikan: ibu belajar, ibu mendampingi, ibu memfasilitasi, dan pada akhirnya semakin banyak anak mendapatkan kesempatan untuk mengenali kekuatannya.

BRI Dorong Pertumbuhan UMKM Probolinggo melalui Penyaluran KUR

Workshop Pandu 45 + Kit menjadi pengingat bahwa menemukan potensi anak bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat mengetahui bakatnya. Ini adalah perjalanan untuk hadir, mengamati, memberi ruang, dan menemani.

Sebab, ketika seorang anak diberi kesempatan untuk mencoba banyak hal, mungkin yang ditemukan bukan hanya bakatnya tetapi juga rasa percaya diri, keberanian, dan keyakinan bahwa dirinya berharga dengan keunikannya sendiri.

Dari Sumatera Utara, 25 ibu membawa pulang satu misi: menjadi lentera yang membantu anak menemukan cahaya terbaik dalam dirinya.

Bagi peserta, pelatihan tersebut bukan sekadar tambahan pengetahuan, tetapi pengalaman yang mengubah cara memandang proses belajar dan potensi.

Eli, peserta yang baru menjadi istri, mengaku bahagia dapat kembali belajar menjadi fasilitator meski belum memiliki anak. Ia merangkum pengalamannya melalui metode 4F: Feeling, Fact, Finding, dan Future. Baginya, proses belajar membuatnya “kaya wawasan, kaya kegiatan, dan kaya gagasan”, sekaligus menyadarkan pentingnya menyampaikan fakta dalam komunikasi, bukan asumsi.

Sementara itu, Mia, ibu pekerja publik dengan empat anak, datang setelah memperjuangkan dua izin dari suami dan pimpinan di tengah agenda tiga sidang mahasiswa yang harus ia uji pada hari yang sama. Ia bahkan memilih duduk paling depan agar tidak kehilangan satu pun materi dari Septi Peni Wulandani dan Dodik Mariyanto.

“Rasa yang campur aduk, sangat bersemangat, haru, senang, berkelindan menjadi satu,” ujar Mia.
Kini, semangatnya berlanjut pada tantangan observasi dan fasilitasi terhadap anak bungsunya. Baginya, perjalanan di Ibu Profesional menjadi ruang untuk kembali belajar memahami diri dan mendampingi anak dengan lebih utuh.

Pengalaman serupa dirasakan Ratna Zahara, peserta yang kini telah menjadi nenek. Ia justru menjadikan dirinya sendiri sebagai objek observasi selama tantangan 30 hari karena sudah tidak memiliki anak kecil di rumah.

Menurut Ratna, metode belajar Pandu 45 membuatnya kembali bermain, tertawa, dan bereksplorasi. Ia menemukan bahwa proses mengenali potensi tidak hanya berlaku untuk anak.
“Pandu 45 mengajarkan saya untuk kembali bermain, kembali bereksplorasi, dan mungkin… kembali menemukan diri saya sendiri,” ungkap Ratna.

Workshop Pandu 45 + Kit di Sumatra Utara pada akhirnya tidak hanya melatih 25 ibu untuk menjadi fasilitator. Lebih jauh, kegiatan ini menegaskan sebuah pesan: potensi tidak selalu ditemukan dengan mencari jawaban secepat mungkin, tetapi dengan memberi ruang untuk mengalami, mengamati, dan menemukan kekuatan sedikit demi sedikit.

Melalui kolaborasi Ibu Profesional Sumatra Utara dan THSN Indonesia, semangat tersebut diharapkan terus bergerak dari ruang pelatihan ke rumah-rumah menjadi kebiasaan baru dalam mendampingi anak: lebih banyak bermain, lebih banyak mengamati, dan lebih banyak memberi kesempatan kepada setiap anak untuk menemukan versi terbaik dirinya.

Ibu Profesional Sumatera Utara
IG : @ibuprofesionalsumaterautara

× Advertisement
× Advertisement