KABAR TREN, LAMPUNG – Program INSPIRE (Inclusive School Program for Respect and Equality) yang digagas oleh tim pengabdian masyarakat Universitas Lampung menjadi salah satu upaya konkret dalam memperkuat nilai inklusivitas di lingkungan sekolah dasar. Program ini dilaksanakan di SDN 1 Kebon Jeruk sebagai bentuk dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas, setara, dan inklusif bagi seluruh anak.
Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter peserta didik. Di tengah keberagaman latar belakang sosial, budaya, agama, dan ekonomi, sekolah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menghargai perbedaan.
Namun, berbagai bentuk diskriminasi, stereotip, hingga perundungan masih ditemukan dalam kehidupan sekolah. Perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, maupun kondisi sosial sering kali menjadi pemicu munculnya perlakuan tidak adil di antara siswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai kesetaraan dan penghormatan terhadap keberagaman perlu terus diperkuat sejak usia dini.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Program INSPIRE hadir sebagai media edukasi yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai inklusivitas, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak setiap individu. Program ini juga mendorong siswa untuk menolak segala bentuk diskriminasi dan perundungan di lingkungan sekolah.
Kegiatan diikuti oleh 48 siswa kelas VI SDN 1 Kebon Jeruk dan berlangsung selama 120 menit. Seluruh rangkaian kegiatan mengedepankan prinsip Meaningful Youth Participation (MYP), yaitu pendekatan yang menempatkan siswa sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran.
Untuk mencapai tujuan tersebut, tim pelaksana menerapkan tiga metode utama, yaitu peer-to-peer teaching, diskusi partisipatif, dan experiential learning. Ketiga metode tersebut dipilih karena dinilai sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar yang lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman langsung dan interaksi aktif.
Melalui metode peer-to-peer teaching, siswa diajak berdiskusi dalam kelompok kecil mengenai berbagai situasi sosial yang berkaitan dengan keberagaman. Mereka kemudian mempresentasikan hasil diskusi kepada kelompok lain sehingga tercipta proses belajar yang kolaboratif dan saling menghargai.
Sementara itu, diskusi partisipatif memberikan ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman, mengemukakan pendapat, dan memahami pentingnya memperlakukan setiap orang secara adil. Pendekatan ini membantu siswa menghubungkan konsep kesetaraan dengan kehidupan sehari-hari yang mereka alami di sekolah.
Pembelajaran semakin diperkuat melalui metode experiential learning yang diwujudkan dalam bentuk simulasi, permainan peran, dan latihan penyelesaian konflik sederhana. Aktivitas ini memungkinkan siswa memahami dampak dari perilaku diskriminatif sekaligus belajar mencari solusi yang inklusif dan adil.
Kegiatan juga menghadirkan Raynard Almer Fabrizio, Duta Genre Universitas Lampung, sebagai narasumber tamu. Kehadiran figur muda tersebut membantu menciptakan suasana belajar yang lebih komunikatif sehingga pesan mengenai toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman dapat diterima dengan lebih mudah oleh para peserta.
Sebelum kegiatan dimulai, seluruh siswa mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman awal mengenai inklusivitas, kesetaraan, hak individu, dan SDGs nomor 4. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, siswa kembali mengikuti post-test guna melihat perubahan pemahaman yang terjadi.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang signifikan pada seluruh indikator. Rata-rata pemahaman siswa meningkat sebesar 44,2 persen, melampaui target minimal peningkatan sebesar 30 persen. Pemahaman mengenai inklusivitas meningkat dari 42 persen menjadi 88 persen, konsep kesetaraan dari 38 persen menjadi 85 persen, serta kesadaran hak untuk dihormati dari 45 persen menjadi 90 persen.
Kemampuan siswa dalam mengidentifikasi perilaku tidak adil juga meningkat dari 40 persen menjadi 86 persen. Sementara itu, pemahaman mengenai SDGs nomor 4 meningkat dari 55 persen menjadi 92 persen. Secara keseluruhan, hasil post-test menunjukkan rata-rata jawaban benar mencapai 95,83 persen, yang menandakan materi dapat dipahami dengan sangat baik oleh mayoritas peserta.
Selain peningkatan secara kuantitatif, program ini juga menunjukkan dampak positif dari sisi partisipasi siswa. Sebanyak 90 persen peserta terlibat aktif dalam diskusi, simulasi, dan sesi refleksi. Dengan capaian tersebut, Program INSPIRE dinilai berhasil menjadi model intervensi edukatif yang efektif dalam menanamkan nilai inklusivitas, kesetaraan, dan budaya anti-perundungan, sekaligus mendukung terwujudnya pendidikan yang lebih inklusif dan berkualitas di sekolah dasar.
Penulis:
Syahla Febriyana
Unique Inndi Akilah
Dinillah Veronika Rambe
Luthfi Kaldera
Razan Arkananta
Mahasiswa Universitas Lampung

