Kabar Tren, Semarang, 15 Juli 2026 – Kampung Sironjang dan Dukuh yang terletak di RW 01 Kelurahan Pakintelan, Semarang memiliki potensi yang besar dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan berbasis rumah tangga. Sebagian besar masyarakat masih memiliki lahan pekarangan yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang produktif, meskipun luasnya relatif terbatas. Selama ini, sebagian pekarangan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga belum memberikan nilai tambah bagi pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tim IDBU-38 Tahun 2026 menggagas sebuah program multidisiplin bertajuk “Penerapan Urban Farming System melalui Budidaya Sayuran Organik, Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber), dan Peternakan Skala Mikro” sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat. Program ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan melalui penerapan sistem budidaya terpadu yang sederhana, ekonomis, dan mudah diterapkan oleh masyarakat.
Urban Farming System tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan rumah tangga, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat didorong untuk memanfaatkan lahan yang tersedia sebagai sumber pangan alternatif sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Menghadirkan Konsep Budidaya Terpadu Melalui Urban Farming System
Program Urban Farming System yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN pada 15 Juli 2026 ini, terdiri atas beberapa kegiatan yang saling terintegrasi, yaitu pengembangan demplot budidaya sayuran organik, budidaya ikan dalam ember atau galon (Budikgalon), serta peternakan skala mikro yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Kampung Sironjang dan Dukuh.
Salah satu inovasi yang menjadi fokus utama adalah Budidaya Ikan dalam Galon (Budikgalon). Inovasi ini menawarkan solusi sederhana bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan. Dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media budidaya, masyarakat dapat memelihara ikan lele sekaligus menanam kangkung dalam satu wadah. Selain hemat tempat, penggunaan galon bekas juga menjadi bentuk pemanfaatan limbah plastik yang memiliki nilai guna baru sehingga sejalan dengan prinsip pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Budikgalon: Inovasi Akuaponik Sederhana yang Mudah Diterapkan
Budikgalon merupakan metode budidaya yang menggabungkan sektor perikanan dan pertanian dalam satu sistem sederhana. Pada program ini, ikan lele dipelihara di dalam galon bekas berkapasitas 19 liter, sedangkan kangkung ditanam pada bagian atas galon menggunakan bakul plastik berlubang dan media tanam rockwool.
Konsep tersebut mengadopsi prinsip akuaponik sederhana. Kotoran ikan dan sisa pakan akan diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat pada EM4 Perikanan menjadi unsur hara yang kemudian diserap oleh akar kangkung. Di sisi lain, tanaman kangkung membantu menyerap zat sisa di dalam air sehingga kualitas air tetap terjaga untuk mendukung pertumbuhan ikan. Dengan demikian, ikan dan tanaman saling memberikan manfaat dalam satu siklus budidaya yang efisien.
Melalui sistem tersebut, masyarakat tidak perlu melakukan pergantian air secara menyeluruh seperti pada budidaya konvensional karena kualitas air tetap terjaga oleh keberadaan tanaman. Hal ini menjadikan Budikgalon sebagai salah satu bentuk inovasi urban farming yang hemat air, hemat lahan, dan ramah lingkungan.
Penyuluhan dan Praktik Langsung Bersama Masyarakat
Pelaksanaan program dilakukan melalui metode penyuluhan yang dikombinasikan dengan praktik secara langsung. Pada tahap awal, masyarakat diberikan pemahaman mengenai konsep Urban Farming System, manfaat budidaya terpadu, serta potensi pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.
Selanjutnya, masyarakat diajak mempraktikkan secara langsung proses pembuatan Budikgalon. Mahasiswa KKN memperkenalkan berbagai alat dan bahan yang diperlukan, seperti galon bekas, benih ikan lele ukuran 3–4 cm, bibit kangkung, bakul plastik berlubang, media rockwool, EM4 Perikanan, methylene blue (obat biru), pakan ikan, dan air bersih.
Tahapan praktik dimulai dari membersihkan galon, memotong bagian atas galon sebagai tempat wadah tanam, mengisi air, menambahkan EM4 Perikanan, menyemai bibit kangkung pada media rockwool, memasang wadah tanam pada bagian atas galon, hingga memasukkan benih ikan lele secara perlahan ke dalam media budidaya.
Kegiatan praktik ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat karena seluruh tahapan dapat dilakukan menggunakan peralatan yang mudah ditemukan dengan biaya yang relatif terjangkau.
Pendampingan Menjadi Kunci Keberhasilan Program
Program Urban Farming System tidak berhenti pada tahap sosialisasi dan praktik. Mahasiswa KKN juga melakukan penjelasan kepada masyarakat agar mampu melakukan pemeliharaan secara mandiri. Masyarakat diberikan penjelasan mengenai cara pemberian pakan ikan dua kali sehari, pergantian sebagian air setiap lima hingga tujuh hari, penambahan EM4 Perikanan setelah pergantian air, serta pentingnya melakukan pengecekan kondisi ikan secara rutin. Selain itu, masyarakat juga memperoleh edukasi mengenai cara merawat tanaman kangkung agar tetap tumbuh optimal, seperti menjaga kelembapan media tanam, memastikan akar menjulur ke dalam air, dan menempatkan Budikgalon di lokasi yang memperoleh sinar matahari selama empat hingga enam jam setiap hari.
Penjelasan ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan masyarakat sehingga sistem budidaya yang telah dibuat dapat terus dimanfaatkan setelah program KKN berakhir.
Mendorong Ketahanan Pangan dan Kemandirian Masyarakat
Penerapan Urban Farming System memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat Kampung Sironjang. Selain mampu menghasilkan ikan lele dan kangkung sebagai sumber protein serta sayuran keluarga, sistem ini juga membantu masyarakat memanfaatkan lahan sempit menjadi lebih produktif.
Biaya pembuatan yang relatif murah membuat Budikgalon dapat diterapkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Di sisi lain, penggunaan galon bekas sebagai media budidaya turut mendukung upaya pengurangan limbah plastik melalui pemanfaatan kembali barang yang sudah tidak digunakan.
Apabila dikembangkan secara berkelanjutan, hasil panen tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan melalui penjualan hasil budidaya kepada masyarakat sekitar. Dengan demikian, Urban Farming System tidak hanya memberikan manfaat dari sisi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Luaran Program sebagai Media Edukasi Berkelanjutan
Sebagai bentuk implementasi dan keberlanjutan program, mahasiswa KKN menghasilkan beberapa luaran yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pihak kelurahan. Luaran tersebut meliputi poster edukasi Budidaya Ikan dalam Galon, video tutorial pembuatan Budikgalon, serta alat praktik berupa instalasi Budikgalon yang digunakan sebagai contoh penerapan Urban Farming System di Kampung Sironjang dan Dukuh.
Poster disusun untuk memberikan informasi mengenai pengertian Budikgalon, alat dan bahan yang diperlukan, tahapan pembuatan, mekanisme kerja sistem, cara pemeliharaan, hingga manfaat yang diperoleh dari penerapan budidaya terpadu. Video tutorial dibuat agar masyarakat dapat mempelajari kembali setiap tahapan pembuatan secara mandiri, sedangkan alat praktik diharapkan menjadi contoh nyata yang dapat direplikasi oleh warga di lingkungan masing-masing.
Urban Farming sebagai Langkah Nyata Menuju Kampung Mandiri Pangan
Melalui pelaksanaan program Urban Farming System, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Tim IDBU-38 berupaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya menyelesaikan permasalahan keterbatasan lahan, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya masyarakat yang lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Dengan memanfaatkan pekarangan rumah yang sebelumnya kurang produktif menjadi area budidaya ikan dan sayuran, masyarakat memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman langsung dalam mengelola sistem budidaya terpadu yang sederhana namun memberikan manfaat nyata. Harapannya, program ini dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan sehingga Urban Farming System menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Kampung Sironjang dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis rumah tangga yang ramah lingkungan, produktif, dan berkelanjutan.
Ditulis oleh: Mahasiswa KKN Tim II IDBU-38 Kelurahan Pakintelan Universitas Diponegoro 2026

