Daerah
Beranda » Berita » Laku Tumbuh di Semarang, 700 Siswa dan 100 Mahasiswa Buka Ruang Belajar Bersama

Laku Tumbuh di Semarang, 700 Siswa dan 100 Mahasiswa Buka Ruang Belajar Bersama

WhatsApp Image 2026-10-08 at 16.58.21
Ratusan siswa, mahasiswa, dan pendamping dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi mengikuti kegiatan Laku Tumbuh di SDN Kalibeji 01, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10/2026), sebagai ruang kolaborasi dan berbagi pengalaman belajar lintas jenjang.

Kalibeji, Kabupaten Semarang, 8 Oktober 2026 — Bagaimana jika sebuah sekolah tidak hanya menjadi tempat anak belajar, tetapi juga menjadi ruang bagi sekolah-sekolah lain untuk saling belajar?

Pertanyaan itu menemukan jawabannya di SDN Kalibeji 01, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10/2026). Lebih dari 700 siswa dari berbagai jenjang dan 11 sekolah berkumpul dalam Laku Tumbuh, sebuah perhelatan pendidikan yang mempertemukan karya, pertanyaan, dan proses belajar anak dalam satu ruang bersama.

Laku Tumbuh diinisiasi oleh School of Life Lebah Putih dan SMP Arunika, dengan SDN Kalibeji 01 sebagai sekolah tuan rumah. Kegiatan ini turut melibatkan SMP Nusantara, MTs Rolas Nol Telu, SD Edimancoro, SDN Gedangan 1, SDN Rowosari, SD Sraten, SD Candirejo, dan TK Mekarsari Kalibeji.

Selain siswa, sebanyak 100 mahasiswa dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), UIN Salatiga, dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) juga terlibat sebagai moderator, panelis, dan pendamping proses belajar.

Yang dipertemukan bukan sekadar siswa dari sekolah yang berbeda, melainkan cara-cara berbeda dalam memandang dan menjalani proses belajar.

BERGEMA Salatiga 2026: Ayah dan Anak Bernostalgia Lewat Permainan Tradisional

Perbedaan itulah yang menjadi inti Laku Tumbuh.

Pendidikan Tidak Cukup Hanya Memindahkan Pengetahuan

Pendidikan Indonesia sedang berada pada fase ketika perhatian tidak lagi hanya tertuju pada akses terhadap sekolah, tetapi juga pada apa yang terjadi di dalam proses belajar.

Rapor Pendidikan Indonesia dengan data capaian 2025 yang diperbarui pada 2026 menempatkan hasil belajar, kualitas proses pembelajaran, pemerataan mutu layanan, serta lingkungan belajar sebagai bagian dari potret mutu pendidikan nasional. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan data tersebut untuk mengidentifikasi masalah, merefleksikan akar persoalan, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.

23 Keluarga Ikuti BERGEMA di Surabaya, Ayah dan Anak Diajak Bermain Bersama

Di tingkat sekolah dasar, tantangannya masih nyata. Kajian Kemendikdasmen pada 2026 menunjukkan bahwa proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum literasi menurun dari 59,04 persen pada 2024 menjadi 55,7 persen pada 2025. Pada numerasi, angkanya turun dari 52,48 persen menjadi 48,25 persen. Kajian tersebut juga menunjukkan masih adanya siswa kelas 4 yang belum menguasai kemampuan dasar literasi dan numerasi.

Data tersebut tentu tidak menceritakan seluruh wajah pendidikan Indonesia. Ada pula capaian yang menunjukkan perbaikan di berbagai wilayah dan indikator. Namun, gambaran tersebut memberi satu pesan penting: memperbaiki pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar menambah materi yang harus dipelajari anak.

BRI Probolinggo Dukung Pembangunan Jalan Desa Alaskandang, Perkuat Akses dan Aktivitas Ekonomi Warga

Dibutuhkan pengalaman belajar yang membuat anak mampu memahami, bertanya, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, dan menggunakan apa yang dipelajarinya untuk menghadapi persoalan.

Di titik inilah Laku Tumbuh mencoba mengambil bagian.

BRI Peduli TJSL Bantu Pembangunan Jalan Desa Wringinanom, Dorong Aktivitas Ekonomi Masyarakat

Bukan dengan menawarkan satu model yang berlaku untuk semua anak, tetapi dengan memberi ruang agar setiap jenjang memiliki tantangan yang sesuai dengan tahap pertumbuhannya.

Dari Satu Pertanyaan, Lahir Banyak Cara Belajar

Di Laku Tumbuh, tidak ada satu bentuk karya yang menjadi standar keberhasilan.

Anak-anak TK Lebah Putih membuka kegiatan dengan lagu dolanan dan workshop. Bagi mereka, dunia belajar hadir melalui gerak, bunyi, permainan, dan pengalaman bersama.

Ibu Profesional Jember Raya dan THSN Gelar BERGEMA Bersama 38 Anak

Siswa kelas 1 dan 2 SD School of Life Lebah Putih membawa hasil observasi dan rasa ingin tahu mereka ke ruang pameran. Mereka belajar bahwa sesuatu yang tampak sederhana dapat menjadi menarik ketika diamati lebih dekat, kemudian diwujudkan dalam sebuah karya yang bisa dinikmati bersama.

Kelas 3 bercerita tentang hal yang mereka sukai serta proses mencari sumber belajar melalui wawancara, kemudian dilanjutkan dengan mengolah data secara sederhana.

Kelas 4 dan 5 membawa persoalan kota tercinta ke ruang konferensi dan berdiskusi mengenai kemungkinan tindak lanjut atas gagasan serta rencana aksi yang baik.

Kelas 6 mempresentasikan Project Langkah Hati, bagian dari perjalanan mereka menuju kelulusan.

Di SMP, tantangannya bergerak lebih jauh.

Kelas 7 berbicara mengenai regulasi emosi remaja, termasuk proses mengembangkan produk dan strategi untuk mengelola emosi dalam konferensi remaja sebaya.

Kelas 8 menggunakan format Pecha Kucha untuk membedah persoalan hingga menemukan akar masalah sebelum memikirkan solusi.

Sementara itu, kelas 9 membawa Local Heroes, Local Action, sebuah proyek yang mengajak siswa melihat orang-orang di sekitar mereka dan kemungkinan tindakan nyata yang dapat dilakukan di lingkungan sendiri.

Jika dilihat sepintas, karya-karya itu tampak sangat berbeda.

Namun, semuanya berangkat dari pola yang sama: memperhatikan, bertanya, mencari tahu, mencoba, menyampaikan, lalu mendapatkan tanggapan dari orang lain.

Dengan demikian, karya bukan sekadar sesuatu yang dipajang pada akhir pembelajaran. Karya menjadi jejak dari proses berpikir anak.

Ketika “Mengapa?” Menjadi Awal Pembelajaran

Ada hal-hal besar yang memang sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil. Seorang anak memperhatikan sesuatu yang berbeda. Lalu ia bertanya.

Pertanyaan itu mungkin belum memiliki jawaban. Ia mencari, menemukan informasi yang belum ia tahu, dan mencoba memahami. Mungkin keliru. Mungkin harus mengubah pikirannya. Kemudian ia bercerita kepada orang lain.

Ketika orang lain bertanya kembali, proses belajarnya belum selesai.

Begitulah Laku Tumbuh memandang karya anak: bukan semata-mata sebagai hasil, tetapi sebagai jejak perjalanan berpikir.

Sebuah presentasi dapat menjadi latihan keberanian.

Sebuah observasi dapat menjadi awal penelitian.

Sebuah kegelisahan dapat berubah menjadi pertanyaan.

Sebuah pertanyaan dapat berkembang menjadi gagasan.

Dan sebuah gagasan, ketika dipertemukan dengan orang lain, dapat menemukan kemungkinan baru.

Karena itu, Laku Tumbuh tidak berangkat dari pertanyaan, “Apa yang harus dibuat anak?”

Pertanyaan yang ingin dihidupkan justru lebih sederhana: “Apa yang membuatmu penasaran?”

Dari sana, anak diberi kesempatan untuk menemukan jalannya sendiri.

Sebab, tidak semua anak harus tumbuh dengan cara yang sama.

Ketika Sekolah Membuka Pintunya, Ruang Belajar Menjadi Lebih Luas

Ada alasan mengapa Laku Tumbuh tidak diselenggarakan di satu sekolah saja.

Penyelenggara memilih SDN Kalibeji 01 sebagai tempat perjumpaan agar proses belajar yang selama ini berlangsung di lingkungan sekolah masing-masing dapat bertemu dengan komunitas yang lebih luas.

Anak-anak bertemu dengan anak dari sekolah lain. Guru bertemu dengan guru. Mahasiswa bertemu dengan siswa. Karya bertemu dengan pertanyaan.

Dan sekolah bertemu dengan pengalaman pendidikan yang mungkin selama ini berada di luar jangkauannya.

Sebanyak 100 mahasiswa UKSW, UIN Salatiga, dan UNNES terlibat bukan sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari proses. Mereka menjadi moderator, panelis, sekaligus pendamping yang membantu menciptakan percakapan di sekitar karya dan gagasan siswa.

Bagi anak, pengalaman ini menghadirkan satu pelajaran yang tidak selalu bisa diberikan melalui buku: bahwa gagasannya layak didengar oleh orang lain.

Bagi guru, perjumpaan lintas sekolah membuka kesempatan untuk melihat praktik pendidikan dari perspektif yang berbeda.

Dan bagi sekolah, kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak harus dibangun sendirian.

Laku Tumbuh tidak bermaksud membuat semua sekolah menggunakan cara yang sama.

Sebaliknya, kegiatan ini mencoba mempertemukan perbedaan agar setiap pihak dapat membawa pulang sesuatu yang baru: sebuah pertanyaan, sebuah praktik, sebuah inspirasi, atau bahkan sebuah kemungkinan kolaborasi berikutnya.

Di sinilah sekolah dapat berfungsi bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai bagian dari ekosistem belajar yang lebih luas.

Menguatkan Akar, Menciptakan Karya, Menebar Dampak

Nama Laku Tumbuh berangkat dari filosofi bahwa pertumbuhan tidak terjadi dalam semalam.

Ia membutuhkan akar. Dalam konteks pendidikan, akar itu berarti ruang bagi anak untuk berkembang sesuai tahapnya, tumbuh dengan growth mindset, dan membangun kepercayaan diri yang disertai tanggung jawab.

Dari akar yang kuat, anak kemudian diberi kesempatan untuk menciptakan karya, bukan semata-mata karya yang terlihat bagus, tetapi karya yang lahir dari proses berpikir, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba.

Pada akhirnya, pertumbuhan itu diharapkan tidak berhenti pada diri anak. Ia dapat bergerak keluar menjadi percakapan, gagasan, tindakan, atau sesuatu yang memberi manfaat bagi orang lain.

Karena itu, Laku Tumbuh membawa tiga semangat: menguatkan akar, menciptakan karya, dan menebar dampak.

Sebuah Hari yang Diharapkan Tidak Berhenti pada Satu Hari

Kepala sekolah SD School of Life Lebah Putih menyatakan bahwa Laku Tumbuh dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial satu hari, melainkan sebagai titik awal pembangunan jejaring kolaborasi jangka panjang antarsekolah di Salatiga hingga Kabupaten Semarang.

Melalui perjumpaan lintas sekolah dan lintas usia ini, para siswa mendapatkan pengalaman berharga bahwa dunia belajar jauh lebih luas daripada ruang kelas mereka sendiri.

Sementara bagi para guru, acara ini menjadi ruang refleksi untuk saling memperkaya metode pengajaran tanpa harus menyeragamkan karakteristik tiap sekolah.

Sebab, pendidikan tidak selalu membutuhkan satu jawaban yang seragam.

Terkadang, yang dibutuhkan adalah lebih banyak ruang untuk bertanya.

Lebih banyak kesempatan untuk mencoba.

Lebih banyak keberanian untuk memperbaiki.

Dan lebih banyak orang yang bersedia belajar bersama.

Kepala sekolah SD Kalibeji 01, Bapak Andika, juga menyebutkan bahwa pertemuan ini diharapkan menjadi awal bagi sekolah-sekolah yang terlibat untuk terus berbagi praktik, membuka ruang kolaborasi, dan menghadirkan karya-karya baru yang lahir dari persoalan nyata di lingkungan masing-masing.

Dengan demikian, Laku Tumbuh diharapkan terus menjadi ruang kolaborasi lintas jenjang yang menginspirasi sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi siswa, guru, serta entitas lain di dalamnya.

Laku Tumbuh membawa pesan bahwa pertumbuhan yang kuat pada anak tidak hanya membutuhkan kurikulum yang tepat, tetapi juga tanah perjumpaan yang saling menguatkan antarkomunitas pendidikan.

Narahubung Media:
Kak Gita – Tim Medsos Lebah Putih-Arunika
0895-4100-45650

× Advertisement
× Advertisement