KABARTREN, JAKARTA – CEO PT Yan Group GFS, Adrian Maulana Putra, optimistis produk makanan ringan atau snack lokal Indonesia mampu menembus pasar Asia pada 2030. Keyakinan tersebut didasarkan pada kualitas produk dalam negeri yang dinilai semakin kompetitif, baik dari segi cita rasa, inovasi, maupun kemampuan untuk memenuhi selera konsumen internasional.
Menurut Adrian, sudah saatnya produk snack lokal naik ke level yang lebih tinggi dan tidak hanya menjadi pemain di pasar domestik. Ia meyakini bahwa Indonesia memiliki banyak produk makanan ringan berkualitas yang mampu bersaing dengan berbagai merek besar di tingkat regional maupun internasional.
“Sudah saatnya snack lokal naik level. Dengan cita rasa yang enak dan kualitas yang baik, saya yakin snack lokal Indonesia bisa bersaing di pasar Asia. Kita harus bangga dengan produk kita sendiri dan berani membawanya ke pasar yang lebih luas,” ujar Adrian.
Melalui PT Yan Group GFS, Adrian tengah mempersiapkan langkah ekspansi yang terarah untuk memperkenalkan produk-produk lokal Indonesia ke berbagai negara di Asia. Dalam strategi pengembangan pasar tersebut, Malaysia dan Jepang menjadi dua negara yang diprioritaskan sebagai tujuan utama ekspansi perusahaan.
Adrian menjelaskan bahwa Malaysia dipilih karena memiliki karakteristik pasar yang dinilai dekat dengan Indonesia, terutama dari sisi selera makanan. Menurutnya, kesamaan budaya dan preferensi rasa menjadi peluang besar bagi produk snack lokal untuk diterima oleh masyarakat Malaysia.
“Malaysia menjadi salah satu tujuan utama karena kita mengetahui bahwa karakteristik lidah masyarakatnya tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi peluang yang sangat baik bagi produk lokal untuk berkembang,” katanya.
Selain Malaysia, Jepang juga menjadi target pasar yang dinilai memiliki potensi besar. Adrian melihat adanya perubahan tren konsumsi di negara tersebut, di mana masyarakat Jepang mulai menunjukkan ketertarikan terhadap makanan-makanan khas Indonesia, termasuk produk yang memiliki cita rasa pedas.
Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat Jepang terhadap kuliner Indonesia merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku usaha dalam negeri. Dengan strategi pemasaran yang tepat dan kualitas produk yang terjaga, snack lokal Indonesia diyakini memiliki kesempatan untuk memperoleh tempat di pasar Jepang.
“Warga Jepang saat ini mulai banyak yang menyukai makanan pedas dan tertarik dengan berbagai makanan dari Indonesia. Menurut saya, ini adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk naik level dan memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas,” ungkap Adrian.
Ia menilai bahwa keberhasilan menembus pasar internasional tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada keberanian pelaku usaha untuk berinovasi dan membangun jaringan bisnis yang kuat. Oleh karena itu, PT Yan Group GFS terus berupaya memperluas relasi dan memperkuat strategi pengembangan pasar sebagai bagian dari persiapan menuju target ekspansi Asia pada 2030.
Di tengah persaingan industri makanan ringan yang semakin ketat, Adrian tetap optimistis bahwa produk lokal Indonesia memiliki daya saing yang kuat. Kekayaan cita rasa nusantara, kreativitas pelaku usaha, serta meningkatnya minat konsumen internasional terhadap produk khas Indonesia menjadi modal penting untuk memperluas pasar.
Lebih jauh, ia berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang bangga menggunakan dan mengonsumsi produk dalam negeri. Menurutnya, dukungan terhadap produk lokal akan menjadi fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan industri nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan diri pelaku usaha untuk bersaing di pasar global.
Dengan target menembus pasar Asia pada 2030, PT Yan Group GFS berkomitmen untuk terus mengembangkan kualitas produk dan memperluas jangkauan bisnis. Adrian Maulana Putra meyakini bahwa melalui kerja keras, inovasi, dan keyakinan terhadap potensi produk lokal, snack Indonesia dapat menjadi salah satu produk unggulan yang mampu bersaing dan diterima oleh konsumen di berbagai negara Asia.

