Kabar Tren, JAKARTA — Tren estetika medis di Tanah Air memasuki babak baru. Jika beberapa tahun lalu masyarakat mengidamkan bentuk wajah tirus ekstrem (V-shape) yang seragam, kini preferensi publik bergeser signifikan ke arah estetika yang lebih presisi, proporsional, dan tetap mempertahankan karakter bawaan lahir.
Pendekatan ini dikenal dengan istilah Face Contouring berbasis pembentukan proporsi utuh (full-face assessment). Perawatan non-bedah ini dirancang khusus untuk mengoreksi struktur anatomi tanpa mengubah identitas visual pasien.
Spesialis pembentukan kontur wajah dari GLAMRITZ Aesthetic Clinic, dr. Amelia Budiman, M. Biomed, mengungkapkan bahwa kunci utama estetika medis modern terletak pada perpaduan antara seni visual dan presisi biomedis, atau yang diusung melalui konsep Beauty by Design.
“Banyak pasien datang karena merasa wajahnya terlihat lebih lelah atau ‘tampak tua’, padahal kondisi kulit mereka cukup bagus dan rutin dirawat skincare. Masalahnya sering kali bukan pada lapisan kulit luar, melainkan perubahan struktur penopang di dalamnya,” jelas dr. Amelia saat diwawancarai di Jakarta.
Memahami ‘Facial Aging’: Mengapa Struktur Wajah Bisa Berubah?
dr. Amelia, yang merupakan lulusan Magister Ilmu Biomedik Universitas Islam Sultan Agung serta lulusan Kedokteran Universitas Tarumanagara, memaparkan bahwa proses penuaan wajah (facial aging) merupakan dinamika kompleks multi-lapisan.
Seiring bertambahnya usia, perubahan tidak hanya terjadi pada permukaan kulit (skin quality), melainkan melibatkan:
1. Penyusutan Volume Jaringan Lemak: Area seperti pelipis, bawah mata (under-eye), dan pipi tengah (midface) kehilangan volume alami sehingga tampak cekung (hollow).
2. Kelemahan Penopang Jaringan: Melonggarnya ligamen penyangga (retaining ligaments) yang membuat kontur pipi dan garis rahang (jawline) tampak mengendur.
3. Perubahan Struktur Tulang: Remodeling tulang wajah secara alami yang memengaruhi proyeksi area T-zone dan dagu.
Inilah mengapa menambah skincare saja tidak cukup jika penopang struktur di bawahnya sudah mengalami penurunan volume. Pendekatan estetika harus melihat wajah sebagai satu kesatuan karya seni, tambahnya.
Mencegah Kesan ‘Overdone’ Melalui Pendekatan ‘Natural Look’
Salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat saat hendak menjalani prosedur kecantikan adalah hasil yang terlihat kaku atau tidak alami (overdone). Menjawab hal tersebut, konsep Beauty by Design menekankan pentingnya mempertahankan signature beauty,ciri khas alami yang dimiliki setiap individu.
Dalam praktiknya, dr. Amelia menggabungkan berbagai modalitas medis terkini yang disesuaikan secara personal:
• Collagen Stimulator (Ellansé): Untuk merangsang regenerasi kolagen mandiri sekaligus memberikan dukungan struktural jangka panjang pada jaringan kulit.
• Hyaluronic Acid (HA) Filler: Mengembalikan volume dan proyeksi pada area spesifik seperti dagu, pipi, atau pelipis secara instan namun presisi.
• Botulinum Toxin & Pengencangan: Merelaksasi otot masseter yang terlalu aktif serta mengencangkan jaringan lunak yang kendur.
“Setiap tindakan dipersonalisasi. Tidak ada satu rumus atau template yang bisa dipakai untuk semua orang. Dokter harus mampu menganalisis interaksi antar-fitur wajah agar tercipta facial harmony,” tegasnya.
Edukasi Medis dan Konsultasi Presisi
Bagi masyarakat yang ingin mengoreksi proporsi wajah atau mengatasi tanda-tanda penuaan struktural, dr. Amelia menyarankan untuk selalu mendahulukan konsultasi dan evaluasi anatomi secara menyeluruh bersama dokter berkompeten sebelum menentukan tindakan.
Layanan konsultasi Face Contouring dan analisis struktur wajah berbasis Beauty by Design ini dapat diakses secara langsung di GLAMRITZ Aesthetic Clinic, yang berlokasi di Ruko Cordoba Blok F No. 16, Jl. Marina Raya, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.

