Entertainment
Beranda » Berita » Kehilangan sebagai Inspirasi: Menyusuri Akar Emosional Novel Sejauh Rindu Mencari Pulang

Kehilangan sebagai Inspirasi: Menyusuri Akar Emosional Novel Sejauh Rindu Mencari Pulang

saasaawq
Sejauh Rindu Mencari Pulang

Kabar Tren, Jakarta – Kehilangan kerap menjadi tema besar dalam karya sastra, namun tidak semua penulis mengolahnya dengan cara yang begitu personal seperti yang dilakukan Sefryana Khairil dalam novel terbarunya, Sejauh Rindu Mencari Pulang. Novel ini bukan hanya kisah fiksi, tetapi juga cerminan perjalanan emosional yang lahir dari pengalaman kehilangan yang nyata dan sunyi.

Bagi Sefryana, kehilangan bukan sebuah konsep abstrak. Ia adalah pengalaman hidup yang meninggalkan jejak mendalam—terutama setelah kepergian mendiang anaknya. Duka itulah yang perlahan menerjemahkan diri menjadi narasi, karakter, dan konflik yang membentuk novel ini.

Luka yang Tidak Selesai

Dalam Sejauh Rindu Mencari Pulang, Sefryana menghadirkan tokoh Fayrani, seorang perempuan yang tumbuh dalam keluarga disfungsional dan membawa trauma sejak masa kecil. Meskipun latar cerita berbeda dari pengalaman pribadi sang penulis, benang merahnya jelas: kehilangan tidak pernah selesai begitu saja. Ia membentuk cara seseorang mencintai, melindungi diri, dan memaknai rumah.

Kehilangan yang dialami Fayrani—akan figur, kasih sayang, dan rasa aman—mewujud sebagai bagian dari perjalanan batin yang rapuh namun kuat. Melalui tokoh ini, Sefryana mengeksplorasi bagaimana seseorang terus berusaha berdiri di tengah hidup yang terasa tidak memberi tempat.

Penyesalan dan Cinta yang Tertahan

Sementara itu, tokoh laki-laki utama, Genta, membawa luka yang berbeda: penyesalan. Tragedi yang merenggut kakaknya meninggalkan beban moral yang terus menghantuinya. Genta adalah representasi dari mereka yang hidup dengan rasa bersalah yang membeku, tidak membunuh, tetapi menahan hidup di ruang yang sempit.

Akan Tayang di Bioskop Tanah Air Film Terbaru Akting Johana Ariel Suhendra Sudah Tembus 3 juta penonton di Instagram Ternyata Nanashu Sudah mahir memainkan peran Antagonis

Kesedihan Genta terasa seperti cermin dari pengalaman kehilangan yang lebih luas: bahwa duka tidak selalu datang dari kepergian, tetapi juga dari keterlambatan, kegagalan melindungi, atau kata-kata yang tidak sempat diucapkan.

Novel Sebagai Ruang Pemulihan

Sefryana Khairil secara terbuka di sosial medianya menyampaikan bahwa menulis novel ini merupakan bagian dari proses pemulihannya. Dalam sunyi, ia merangkai kembali fragmen rasa kehilangan:

  • kehilangan masa depan yang dibayangkan,
  • kehilangan seseorang yang dicintai sepenuh hati,
  • kehilangan bagian dari diri yang ikut pergi bersama orang tersebut.

Melalui fiksi, Sefryana mengekstraksi emosi-emosi itu menjadi cerita yang dapat menjadi teman bagi pembaca yang pernah merasakan hal serupa. Novel ini bukan sekadar kisah cinta, tetapi juga memoar terselubung tentang bagaimana seseorang mencoba “pulang” dari ruang duka yang panjang.

Bukan Modal Cantik, Catherine Ungkap Kunci Suksesnya Sampai Jadi Influencer Hits!

Pulang: Tema Besar yang Menyatukan Segalanya

Di dalam novel ini, “pulang” memiliki beragam lapisan makna:

  • pulang ke seseorang,
  • pulang ke bagian diri yang hilang,
  • atau pulang ke hati yang mulai bisa menerima kembali.

Kehilangan menjadi pondasi yang menggerakkan seluruh dinamika cerita. Bukan untuk membuat pembaca terpuruk, tetapi untuk menunjukkan bahwa dari kehilangan, seseorang bisa menemukan kekuatan baru.

Viral di TikTok, Ataq Jadi Sorotan Karena Konten Seru Bareng Pacar Hingga Review Skincare dan Makanan Hits

Dari Duka Menjadi Karya

Sejauh Rindu Mencari Pulang lahir dari tempat yang dalam. Sefryana tidak hanya bercerita tentang kehilangan; ia berbicara dari dalam kehilangan itu sendiri. Itulah yang membuat novel ini memiliki resonansi emosional yang berbeda yang lebih jujur, lebih tulus, dan lebih menggugah.

Karya ini menjadi bukti bahwa duka dapat melahirkan sesuatu yang indah: cerita yang bisa menemani banyak hati yang sedang mencari arah pulang mereka sendiri.

Pemeran Bu Rina di Asmara Gen Z ternyata seorang Sarjana Matematika

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement