Pendidikan
Beranda » Berita » Mahasiswa KKN IDBU 38 Undip Kembangkan Budidaya Melon Hidroponik di Kampung Dukuh

Mahasiswa KKN IDBU 38 Undip Kembangkan Budidaya Melon Hidroponik di Kampung Dukuh

WhatsApp Image 2026-07-23 at 11.56.16
Bersama Karang Taruna RT 04 mengembangkan Green House (Sumber: Dokumentasi Mahasiswa)

Mahasiswa KKN IDBU 38 Universitas Diponegoro menjalankan program multidisiplin bertajuk “Budidaya Melon Hidroponik” di Kampung Dukuh. Program ini digagas untuk mengoptimalkan potensi pertanian setempat, khususnya pemanfaatan greenhouse sebagai sarana budidaya tanaman hortikultura, dengan komoditas unggulan berupa melon.

Keberadaan Greenhouse selama ini menjadi salah satu fasilitas penting yang mendukung pengembangan kawasan agrokultural di kampung tersebut. Selain berfungsi sebagai tempat budidaya, greenhouse ini juga menjadi media pembelajaran bagi masyarakat untuk menerapkan teknik budidaya tanaman secara lebih efektif dan terarah. Namun, pengelolaan greenhouse secara berkelanjutan memerlukan penerapan teknik budidaya yang tepat di setiap tahapan, mulai dari penyemaian hingga pascapanen.

Program dilaksanakan dengan melibatkan pengelola greenhouse dan Karang Taruna RT 04 Kampung Dukuh, melalui rangkaian kegiatan penyampaian materi, praktik langsung, serta diskusi mengenai teknik budidaya yang mudah diterapkan oleh masyarakat.

Menerapkan Sistem Hidroponik Irigasi Tetes

Salah satu fondasi utama program ini adalah penerapan sistem hidroponik irigasi tetes atau drip irrigation, yakni metode budidaya tanaman tanpa tanah dengan cara meneteskan larutan nutrisi secara langsung ke zona perakaran tanaman. Sistem ini menggunakan pompa dan jaringan pipa dengan frekuensi irigasi yang dikontrol menggunakan timer, serta tetap memanfaatkan media tanam sebagai penopang akar, bukan air secara langsung.

KKN UNDIP Hadirkan Urban Farming untuk Ketahanan Pangan Masyarakat

Metode ini dipilih karena sejumlah keunggulan, di antaranya menghemat penggunaan air dan nutrisi, mendorong pertumbuhan tanaman yang lebih baik, mengurangi tenaga kerja, cocok diterapkan pada lahan terbatas, serta menekan risiko penyakit sehingga hasil panen menjadi lebih berkualitas. Meski demikian, mahasiswa juga menyampaikan bahwa sistem ini memiliki tantangan tersendiri, seperti biaya awal yang cukup besar, ketergantungan pada pasokan listrik, kebutuhan pengecekan rutin, potensi selang tersumbat, serta perlunya pengetahuan teknis dan kualitas air yang baik agar sistem berjalan optimal.

Tahapan Penyemaian: Awal Mula Pertumbuhan Bibit Melon

Kegiatan budidaya diawali dengan tahap penyemaian benih melon. Mahasiswa memberikan edukasi warga terkait benih berkualitas dengan ciri bersih, utuh, dan memiliki daya kecambah tinggi. Benih kemudian direndam selama kurang lebih 5 – 12 jam dalam air hangat bersuhu 40°C untuk mempercepat proses perkecambahan, dilanjutkan dengan pemeraman di atas tisu lembap selama sekitar 24 jam hingga benih mulai berkecambah.

Edukasi Mahasiswa Yatsi Madani Tingkatkan Kesadaran Santri Menjaga Kesehatan Gigi

Setelah berkecambah, benih disemai pada media semai berupa campuran tanah, kompos, dan sekam bakar dalam polybag kecil. Selama masa ini, bibit dirawat dengan menjaga kelembapan media melalui penyiraman secukupnya. Bibit dinyatakan siap dipindahkan setelah berumur 7 – 10 hari atau telah memiliki 2 – 3 helai daun sejati.

Menariknya, program ini juga menghadirkan inovasi berupa sosialisasi dan demonstrasi optimalisasi media semai menggunakan cocopeat dengan penambahan sekam bakar. Kombinasi ini diperkenalkan sebagai alternatif media semai yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan awal bibit melon.

Limbah Berdaya: Edukasi Nilai Tambah Limbah Organik sebagai Peluang Usaha

Pindah Tanam yang Cermat

Setelah bibit siap, tahap selanjutnya adalah pindah tanam. Mahasiswa menekankan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan warga, di antaranya waktu pelaksanaan yang sebaiknya dilakukan pada sore hari agar tanaman tidak mudah layu, pemilihan bibit yang sehat dan bebas hama atau penyakit, serta pemberian jarak tanam yang cukup agar tanaman memperoleh cahaya dan sirkulasi udara yang baik.

Optimalisasi Penyemaian Benih Melon Menggunakan Cocopeat dan Sekam Bakar

Pemupukan dengan Nutrisi AB Mix

Dalam sistem hidroponik, media tanam tidak menyediakan hara secara alami sehingga nutrisi utama tanaman melon dipasok melalui larutan AB Mix — campuran pupuk majemuk larut air yang mengandung unsur makro dan mikro lengkap. Larutan Stok A dan Stok B sengaja dipisahkan karena tidak boleh dicampur dalam kondisi pekat langsung, sebab dapat menyebabkan pengendapan sehingga hara tidak dapat terserap optimal oleh tanaman. Cara pemakaiannya, kedua larutan dilarutkan secara terpisah di dalam air, kemudian digabungkan ke tandon sebelum dialirkan melalui sistem irigasi tetes.

Dosis dan konsentrasi nutrisi disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Pada fase vegetatif (1–14 hari setelah tanam/HST), konsentrasi nutrisi berada di kisaran 1000 ppm; fase berbunga (15–30 HST) meningkat menjadi 1200 ppm; sementara pada fase pembesaran buah (31–54 HST) hingga fase gramasi-panen (55–76 HST), konsentrasi nutrisi dinaikkan menjadi 1500 ppm, dengan volume air dan nutrisi yang juga disesuaikan pada waktu pagi, siang, dan sore.

Pelatihan Ecoprint Tumbler Dorong Kreativitas Ibu PKK Memanfaatkan Daun Lokal

Pemeliharaan: Pelilitan, Pruning, dan Topping

Untuk memastikan pertumbuhan tanaman optimal, program ini mengedukasi warga mengenai tiga teknik pemeliharaan utama. Pertama, pelilitan, yaitu mengikat batang pada tali ajir agar tanaman tumbuh tegak, yang dapat mulai dilakukan saat melon berumur 5 HST. Kedua, pruning, yang meliputi kegiatan pewiwilan atau membuang tunas pada ketiak daun hingga tunas ke-7, pembuangan sulur pada umur sekitar 20 HST, serta pembuangan tunas di dekat calon buah. Ketiga, topping, yakni pemotongan ujung tunas utama pada daun ke-25 hingga ke-28 yang bertujuan mengarahkan nutrisi tanaman ke proses pembesaran buah.

Polinasi untuk Menjamin Pembuahan

Tahap krusial berikutnya adalah polinasi atau penyerbukan, yaitu proses memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke kepala putik bunga betina saat bunga telah mekar. Polinasi umumnya dilakukan saat tanaman melon berumur 20 HST, dan dapat dilaksanakan melalui dua cara: polinasi manual, dengan mengoleskan serbuk sari bunga jantan ke kepala putik bunga betina secara langsung, atau polinasi serum, yaitu penyerbukan dengan bantuan produk serum seperti poliplant.

Gantung dan Seleksi Buah

Ketika buah mulai terbentuk, dilakukan proses gantung buah, yaitu menyangga buah menggunakan tali agar tangkai tidak menahan seluruh beban buah sehingga pertumbuhannya tetap optimal. Kegiatan ini biasanya dilakukan 5 – 7 hari setelah polinasi, atau ketika buah telah berukuran sebesar telur ayam. Selanjutnya dilakukan seleksi buah, yaitu memilih bakal buah terbaik yang berbentuk simetris dan sehat, guna memastikan hasil akhir berupa buah melon yang berkualitas tinggi.

Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu

Mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai pengendalian hama dan penyakit dengan dua pendekatan, yaitu kimiawi dan hayati/nabati. Secara kimiawi, insektisida berbahan aktif abamektin atau imidakloprid digunakan untuk mengatasi hama seperti kutu daun, thrips, dan ulat, sedangkan fungisida berbahan aktif propineb, heksakonazol, atau kombinasi metalaksil dan mankozeb digunakan untuk mengendalikan penyakit jamur seperti embun tepung dan embun bulu.

Sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan, diperkenalkan pula pendekatan hayati dan nabati, meliputi pemanfaatan agen hayati seperti Trichoderma harzianum untuk menekan jamur penyebab busuk akar dan batang, Bacillus subtilis untuk menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri patogen, serta Beauveria bassiana untuk mengendalikan hama serangga. Selain itu, pestisida nabati berbahan ekstrak daun mimba, ekstrak bawang putih, dan minyak serai wangi turut diperkenalkan sebagai solusi pengendalian hama yang lebih aman.

Panen dan Penanganan Pascapanen

Panen melon dilakukan pada umur 55 – 68 HST, ditandai dengan tingkat kemanisan, warna kulit, dan tekstur daging buah yang optimal. Untuk memastikan kualitas, dilakukan tes brix guna mengukur kadar kemanisan buah menggunakan beberapa sampel, dengan tingkat kemanisan ideal berada pada kisaran 11 – 15 briks. Proses pemotongan tangkai buah dilakukan berbentuk huruf “T” untuk menjaga kualitas dan kesegaran melon.

Setelah dipanen, melon dikumpulkan menggunakan alat angkong lalu dikelompokkan berdasarkan grade. Grade A ditandai dengan bentuk sempurna, berat minimal 1 kilogram, dan kemanisan 13 – 14° Brix. Grade B memiliki bentuk baik dengan berat 600 – 800 gram dan kemanisan 11 – 12° Brix. Sementara Grade C memiliki bentuk kurang seragam, berat 500 – 600 gram, dengan kemanisan di bawah 10° Brix. Setelah proses grading, melon diberi label berupa stiker atau logo sebagai identitas produk sebelum dipasarkan, baik secara online maupun offline.

Sterilisasi Greenhouse sebagai Upaya Keberlanjutan

Sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan fasilitas, program ini juga mencakup edukasi sterilisasi greenhouse secara menyeluruh. Sterilisasi meliputi pembersihan plastik UV dan insect screen menggunakan sabun cair untuk menjaga cahaya dan kebersihan, pembersihan lantai greenhouse menggunakan karbol untuk membasmi kuman dan jamur, pencucian tangki nutrisi dengan air bersih untuk menghilangkan biofilm atau lumut, serta perawatan sistem irigasi berupa selang dan filter menggunakan air bersih dan larutan asam lemah untuk mencegah penyumbatan akibat kerak.

Harapan ke Depan

Melalui rangkaian program yang mencakup pengolahan media tanam, penyemaian, pemasangan sistem irigasi tetes, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, hingga panen dan pascapanen, mahasiswa KKN IDBU 38 Universitas Diponegoro berharap dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Kampung Sironjang dalam mengelola greenhouse secara mandiri dan berkelanjutan.

Program ini juga diharapkan mampu mendukung penerapan teknik budidaya melon yang lebih optimal serta memperkuat peran Greenhouse Sironjang sebagai sarana edukasi pertanian sekaligus penggerak pengembangan kawasan agrokultural di wilayah tersebut. Dengan keterlibatan aktif pengelola greenhouse dan Karang Taruna RT 04, diharapkan pengetahuan yang telah ditransfer dapat terus diterapkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat setempat, bahkan setelah program KKN berakhir.

× Advertisement
× Advertisement