Oleh: Iin Fajar Liana – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Menjaga konsentrasi saat menjalani kuliah secara daring bukan hanya diuji oleh mampu tidaknya mahasiswa menuntaskan setumpuk tugas, melainkan juga soal bagaimana kita bertahan di tengah lingkungan digital yang menarik perhatian. Dalam satu layar yang sama, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan, membuka materi, membalas pesan, merespons notifikasi yang silih berganti muncul, memeriksa email, sampai akhirnya tanpa sadar terdistraksi untuk membuka media sosial. Keleluasaan waktu dan tempat yang selama ini dianggap sebagai kelebihan utama kuliah daring, pada kenyataannya, justru memunculkan persoalan baru yang tak kalah pelik. Bagaimana caranya mahasiswa dapat hadir secara utuh ketika ruang untuk belajar dan ruang untuk teralihkan sama-sama berada pada satu perangkat yang sama?
Bagi mahasiswa yang menjalani perkuliahan sepenuhnya secara daring, suasana kamar tidur bisa berubah fungsi menjadi ruang kelas, meja belajar menjelma menjadi kampus, sementara laptop dan gadget menjadi gerbang menuju hampir seluruh aktivitas akademik. Sayangnya, tidak adanya sekat yang tegas antara dunia kuliah, rumah, pekerjaan, dan hiburan membuat perhatian jauh lebih mudah terpecah. Deadline yang datang bersamaan, obrolan grup yang tak pernah sepi, serta kebiasaan membuka banyak tab sekaligus dapat membuat proses belajar berjalan secara otomatis tanpa keterlibatan penuh.
Kampus di Dalam Layar: Realitas Mahasiswa Universitas Online
Bagi mahasiswa universitas online, ruang belajar berbeda dari kampus konvensional. Akses kelas secara virtual, membaca materi, diskusi online, hingga komunikasi akademik seluruhnya dilakukan secara digital [1]. Pola ini memberikan kemudahan berupa fleksibilitas waktu dan tempat, terutama bagi mahasiswa yang juga bekerja atau memiliki tanggung jawab lain di luar perkuliahan.
Namun, kemudahan tersebut datang bersama tantangan tersendiri. Batas antara ruang akademik dan ruang pribadi menjadi semakin tipis sehingga kehadiran dalam kelas online tidak selalu berarti hadir secara penuh dalam proses belajar. Perhatian dapat berpindah tanpa disadari, baik karena notifikasi, tuntutan pekerjaan, maupun tugas lain yang datang hampir bersamaan. Karena itu, fleksibilitas dalam perkuliahan online perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola fokus dan kesadaran diri agar proses belajar tetap terarah.
Ketika Teknologi Menjadi Ruang Belajar dan Sumber Distraksi
Laporan Global Education Monitoring UNESCO 2023 menyoroti bahwa teknologi digital memiliki potensi besar dalam pendidikan, tetapi penggunaannya juga membawa risiko distraksi dan berkurangnya interaksi langsung antarmanusia. UNESCO turut menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran jarak jauh sangat bergantung pada sejauh mana mahasiswa dapat melakukan regulasi diri.
Secara sederhana, persoalan kuliah online tidak berhenti pada tersedianya perangkat dan jaringan internet. Ada kemampuan yang justru semakin penting, yaitu mengelola perhatian, memahami keadaan diri, serta menentukan kapan teknologi digunakan sebagai alat dan kapan teknologi mulai mengambil alih perhatian mahasiswa itu sendiri [2].
Situasi seperti ini menghadirkan sebuah paradoks tersendiri. Perangkat yang sama memungkinkan mahasiswa belajar dari mana saja, tetapi perangkat tersebut juga menjadi tempat hiburan, komunikasi, media sosial, dan berbagai aktivitas digital lainnya. Teknologi memang membuka akses, tetapi akses yang luas belum tentu berbanding lurus dengan perhatian yang utuh.
Dalam perspektif estetika humanisme, persoalan ini menjadi menarik karena pada dasarnya teknologi tidak seharusnya ditempatkan sebagai pusat pengalaman belajar. Manusia tetap menjadi subjek yang menentukan tujuan, makna, dan cara teknologi digunakan. UNESCO juga memperkuat pandangan bahwa kepentingan manusia perlu ditempatkan sebagai pusat pemanfaatan teknologi pendidikan, bukan menjadikan teknologi sebagai pengganti interaksi dan perkembangan manusia.
Mindfulness sebagai Cara untuk Hadir Sepenuhnya
Mindfulness bukan sekadar teknik mengosongkan kepala, apalagi memaksa pikiran agar berhenti mengembara ke urusan lain. Dalam konteks belajar, mindfulness lebih dekat dengan kemampuan menyadari apa yang sedang terjadi pada diri sendiri dan mengembalikan perhatian kepada aktivitas yang sedang dilakukan.
Noveni Wilinda dan Rose Mini Agoes Salim menguji hal ini pada 161 mahasiswa, yang terdiri atas mahasiswa jenjang sarjana dan pascasarjana yang tengah menjalani pembelajaran jarak jauh. Penelitian tersebut menemukan bahwa kecerdasan emosional berperan sebagai mediator dalam hubungan antara mindfulness dan motivasi akademik [3].
Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa kesadaran terhadap keadaan “di sini dan saat ini” membantu mahasiswa lebih menyadari serta mengatur emosinya. Dari sini dapat ditarik satu hal bahwa mindfulness tidak sekadar berbicara mengenai fokus. Ada lapisan kemampuan pengenalan diri di dalamnya.
Seorang mahasiswa dapat menyadari kapan dirinya mulai lelah, kapan perhatian berpindah, atau kapan dorongan membuka aplikasi lain muncul tanpa alasan yang berkaitan dengan kegiatan belajar itu sendiri.
Self-Awareness di Tengah Riuh Digital
Kesadaran diri tidak muncul begitu saja. Kemampuan ini dibentuk melalui kebiasaan kecil yang dijalankan secara konsisten. Mahasiswa bisa memulai dari langkah paling dasar, yaitu menetapkan satu prioritas sebelum sesi belajar dimulai dan mengenali pemicu distraksi yang paling sering muncul pada dirinya.
Ketika perhatian mulai bergeser, mahasiswa dapat memberikan jeda singkat. Pada titik itu, yang dibutuhkan bukan memaksa diri untuk terus fokus, melainkan menyadari apa yang sedang terjadi pada pikiran dan emosi, kemudian kembali pada aktivitas belajar secara sadar, bukan reaktif.
Evaluasi singkat setelah sesi belajar selesai turut membantu proses ini. Misalnya, dengan menganalisis hal yang paling mengganggu konsentrasi hari itu atau bagian materi yang berhasil diselesaikan dengan baik meskipun terdapat gangguan.
Konsep mindfulness juga bukan solusi instan yang menghapus semua gangguan begitu dipraktikkan. Wimmer, Bellingrath, dan von Stockhausen, dalam studi terhadap 180 mahasiswa, menemukan bahwa manfaat pelatihan mindfulness tidak konsisten pada seluruh aspek regulasi perhatian yang mereka ukur. Sebagian aspek menunjukkan perbaikan, sementara sebagian lainnya tidak menunjukkan perubahan berarti [4].
Temuan ini memperkuat pandangan yang lebih realistis, yaitu bahwa nilai utama mindfulness terletak pada kemampuan menyadari saat perhatian mulai bergeser, mengenali pemicunya, lalu mengarahkan diri kembali pada tujuan belajar secara sadar.
Membuat Ruang Tenang di Tengah Riuh Digital
Fleksibilitas yang diberikan pada pembelajaran jarak jauh akan jauh lebih bernilai ketika dimanfaatkan untuk menyerap pengetahuan, bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Rekaman materi berupa penjelasan dosen yang tersedia tidak otomatis membuat materi dipahami apabila terus ditunda untuk ditonton.
Tenggat waktu yang panjang dapat terasa membantu, tetapi pada saat yang sama membuka ruang untuk menunda pekerjaan hingga mendekati batas akhir. Di sinilah self-learning menjadi penting. Mahasiswa perlu mampu mengatur ritme belajar dan memberi ruang untuk menjaga perhatian meskipun harus membangun kebiasaan belajar secara mandiri.
Mahasiswa dapat menentukan sendiri kapan harus membaca, mengulang rekaman, mencatat bagian yang belum dipahami, atau mencari pemahaman yang lebih utuh. Dengan demikian, fleksibilitas tidak hanya berarti bebas menentukan waktu belajar, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengelola waktu dan perhatian secara mandiri.
Kembali Hadir dalam Proses Belajar
Dari sudut pandang sebagai mahasiswa yang menjalani perkuliahan secara online, fleksibilitas bukan hanya kemudahan dalam mengakses kelas, materi, atau rekaman pertemuan. Ada tanggung jawab personal untuk mengelola perhatian ketika tidak ada ruang kelas fisik yang membentuk ritme belajar secara langsung.
Notifikasi eksternal tetap muncul, pekerjaan lain menunggu, dan media sosial terus menawarkan distraksi yang lebih cepat menarik perhatian. Dalam kondisi seperti itu, fokus bukan berarti tidak pernah terganggu, melainkan mampu menyadari ketika perhatian mulai menjauh lalu memilih untuk kembali.
Mindfulness dan self-awareness membantu memahami pola belajar dengan lebih jujur, termasuk kapan benar-benar belajar, kapan mulai menunda, dan kapan pikiran sudah lelah. Kesadaran tersebut mungkin tidak langsung membuat proses belajar sempurna, tetapi memberikan ruang untuk mengambil keputusan secara lebih sadar.
Teknologi hanya menyediakan ruang belajar. Cara memanfaatkannya tetap bergantung pada diri sendiri. Di tengah arus informasi yang terus bergerak, kemampuan untuk berhenti sejenak, mengenali kondisi diri, lalu kembali pada tujuan belajar menjadi bagian penting dari pengalaman sebagai mahasiswa universitas online.

