Kolom
Beranda » Berita » Posisi Rawan Terotomatisasi? Ini Investasi Wajib Human Capital di Tengah Gempuran AI

Posisi Rawan Terotomatisasi? Ini Investasi Wajib Human Capital di Tengah Gempuran AI

jjjjjyy5
Ilustrasi otomatisasi layanan publik

Oleh: Salma Nazwa Fauziah, Shinta Agustyaningsih, Cintan Nur Oktavia

Kabartren.com, Opini – Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di kalangan lulusan perguruan tinggi masih signifikan, di mana Sarjana (S1) mencapai 5,39% serta Diploma sebesar 4,31%. Ironisnya, di saat yang sama, perusahaan besar di sektor jasa dan perbankan semakin masif mengadopsi Artificial Intelligence (AI) untuk otomatisasi pelayanan. Seperti, BCA dengan fitur VIRA, GoTo (Gojek-Tokopedia) dengan ‘Sahabat-AI’ dan ‘Dira’ sebagai asisten virtual berbasis AI yang dapat melayani hingga 24/7.

Lalu, apa relevansi di antara kedua hal tersebut?

Proyeksi McKinsey & Company memperkirakan bahwasannya pada tahun 2030, sekitar 23 juta pekerjaan di Indonesia berpotensi terotomatisasi.

Munculnya potensi ini justru banyak menyasar pada pekerjaan dengan pola terstruktur dan repetitif, seperti penginputan data dan administrasi rutin. Yang mana peran tersebut banyak dijadikan sebagai titik awal karier bagi lulusan sarjana maupun diploma. Dengan adanya lonjakan TPT yang signifikan dalam lulusan perguruan tinggi dan diiringi masifnya perusahaan besar yang telah menerapkan otomatisasi AI, cukup menjelaskan adanya proyeksi ini.

Di sisi lain, laporan yang sama juga memproyeksikan munculnya 46 juta pekerjaan baru, didorong oleh pertumbuhan kelas menengah, pengembangan teknologi, dan investasi infrastruktur.

Memperluas Jaring Pajak: Peran Reformasi Fiskal di Era Turbulensi Global

Fenomena di atas mempertegas urgensi penerapan teori Human Capital Investment. Dalam perspektif ekonomi, pendidikan dan pelatihan bukan sekadar biaya, melainkan investasi strategis untuk meningkatkan produktivitas di masa depan. Namun, data BPS menunjukkan bahwa modal manusia yang kita miliki saat ini sedang mengalami depresiasi atau penyusutan nilai karena keterampilannya tidak lagi relevan dengan kebutuhan pasar yang sudah terotomatisasi (skill mismatch).

Hal tersebut selaras dengan pernyataan Kementerian Ketenagakerjaan RI, yang menyebut,

“Dalam 10 tahun ke depan, 50 persen pekerjaan berpotensi diganti oleh AI. Untuk itu, tenaga kerja Indonesia perlu meningkatkan kompetensi melalui program upskilling dan reskilling.”

Selama ini, dunia pendidikan sering kali terlambat menyadari betapa cepatnya kebutuhan dunia kerja berubah. Beruntung, celah ini mulai dijembatani lewat program studi independen bersertifikat yang diintegrasikan ke dalam kurikulum formal. Contoh nyatanya adalah Bangkit Academy, sebuah kolaborasi strategis antara Google, GoTo, dan Traveloka bersama Kemendikbudristek. Lewat program ini, mahasiswa ditempa untuk menguasai keahlian masa depan yang kebal terhadap otomatisasi AI, seperti Machine Learning, Cloud Computing dan Mobile Development. Investasi peningkatan kemampuan (upskilling) inilah yang menyelamatkan sumber daya manusia, sekaligus mengubah mereka menjadi para pencipta teknologi itu sendiri.

Manajemen Risiko Siber dalam Menjaga Kepercayaan Nasabah: Studi Kasus PT Bank Syariah Indonesia Tbk

Bagaimana dengan mereka yang sudah telanjur lulus dan bekerja di posisi yang mulai tergusur oleh teknologi?

Mau tidak mau, belajar keahlian baru (reskilling) adalah harga mati. Pemerintah sebenarnya sudah menyediakan wadah digital lewat Program Kartu Prakerja. Platform ini membantu jutaan pekerja mengambil kursus baru, mulai dari analisis data hingga trik memakai AI untuk kerjaan sehari-hari. Tantangan besarnya sekarang adalah meningkatkan mutu pelatihan. Jangan sampai kursus tersebut hanya membuat peserta sekadar “tahu kulitnya”, melainkan harus benar-benar “mahir” agar punya daya tawar kuat di mata industri seperti perbankan dan jasa.

Namun, tanggung jawab ini tidak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah, perusahaan yang mengadopsi AI secara masif juga memikul peran besar. Alih-alih melakukan PHK massal demi efisiensi, perusahaan harus proaktif menyediakan pelatihan internal agar karyawan yang terdampak otomatisasi dapat dilatih ulang untuk mengisi posisi baru.

Dampak Boikot Konsumen Global Terhadap Kinerja Bisnis Lokal: Analisis Risiko Strategis dan Risiko Finansial pada PT Fast Food Indonesia Tbk (KFC)

Perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh otomatisasi AI menuntut lulusan perguruan tinggi untuk memiliki keterampilan yang lebih relevan dengan kebutuhan industri. Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat kerja sama dengan dunia industri melalui penyesuaian kurikulum, program magang, serta pelatihan berbasis kompetisi digital agar lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi kebutuhan pasar kerja.

Selain itu, program upskilling dan reskilling juga perlu diperluas karena otomatisasi tidak hanya mengurangi pekerjaan rutin, tetapi juga menciptakan kebutuhan terhadap keterampilan baru. Oleh sebab itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan dan masyarakat diperlukan agar tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tetap memiliki daya saing di dunia kerja.

Kesepakatan Diam-Diam di Meja KUA: Melihat Fenomena Lavender Marriage dan Kontrak Pernikahan Palsu

Sumber:

Badan Pusat Statistik. (2025). Tingkat Pengangguran Terbuka Berdasarkan Tingkat Pendidikan, 2025. Badan Pusat Statistik (BPS). https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTE3OSMy/tingkat-pengangguran-terbuka-berdasarkan-tingkat-pendidikan.html

McKinsey & Company. (2019). Otomasi dan masa depan pekerjaan di Indonesia: Pekerjaan yang hilang, muncul dan berubah. McKinsey & Company.

Wahroni. (2025). Menaker: 50 Persen Pekerjaan Digantikan AI dalam 10 Tahun ke Depan. Beritasatu.com. https://www.beritasatu.com/nasional/2940186/menaker-50-persen-pekerjaan-digantikan-ai-dalam-10-tahun-ke-depan

Analisis Risiko Reputasi PT Pertamina Akibat Dugaan Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah

Penulis: Salma Nazwa Fauziah, Shinta Agustyaningsih, Cintan Nur Oktavia

Mahasiswa Ekonomi Pembangunan – Universitas Negeri Semarang (UNNES)

× Advertisement
× Advertisement